Ketua Komisi II DPRD Prov Kalbar, Tanam Perdana Keladi Pratama Di Punggur Besar

JPPOS.ID | KUBU RAYA – Anggota DPRD Prov Kalbar H. Affandie AR yang juga menjabat sebagai Ketua Komisi II DPRD Kalbar, hari ini Sabtu 26 September 2020 melakukan penanaman perdana keladi Pratama/Beneng.

Potensi Talas Beneng untuk dikembangkan masih sangatlah besar, terutama untuk aneka pangan lokal yang saat ini sedang banyak berkembang dan menggunakan talas sebagai bahan bakunya, karena talas jenis ini mengandung protein yang lebih tinggi dan memiliki warna kuning yang menarik sehingga menjadi ciri tersendiri yang tidak dimiliki talas lain,” terang Dedy W Kurniawan selaku koordinator dan pemegang buyer komoditas talas ini.

Lebih lanjut Dedy menekankan Si Beneng sebagai salah satu pangan alternatif potensial yang kebutuhan domestiknya mencapai 3 sampai 10 ton per bulan untuk produk tepung talas beneng dan 30 ton per bulan dalam bentuk umbi segar untuk memenuhi permintaan ekspor ke Belanda, Jepang dan Australia melalui pengerajin di Jawa Timur

Karena itu, potensi peningkatan produksi sangat dimungkinkan karena permintaan pasar belum dapat dipenuhi secara maksimal.

Jadi saat ini petani memerlukan dukungan pemerintah melalui bantuan bibit hingga sarana produksi pertanian untuk meningkatkan produksi Si Beneng, mengingat baik umbi dan daunnya memiliki nilai ekonokis yang luar biasa. Dan hal ini bak gayung bersambut, Affandie AR sebagai Ketua Komisi II DPRD Provinsi Kalbar, Politisi Demikrat ini siap akan mewujudkan bantuan yang dimaksud dalam tahun depan. Bahkan Affandie becita cita menjadikan Punggur Besar Sebagai sentra Keladi Beneng.

Sebagai informasi jenis umbi-umbian ini memiliki sebutan beragam di setiap daerah, di antaranya Empeu (Aceh), Bete (Manado dan Ternate), Paco (Makassar) dan Kaladi (Ambon). Berbeda dengan talas pada umumnya, Talas Beneng asal Pandeglang Banten ini memiliki ukuran yang lebih jumbo dari talas biasa, dengan tinggi tanaman yang dapat mencapai lebih dari 2 meter. Tanaman dengan nama latin Xantoshoma undipes K. Koch ini baru mulai dikenal banyak orang sejak tahun 2008.

Komitmen bersama ekspor talas

Di kebun tempat penanaman keladi Prayama/Beneng saat dikonfirmasi lebih lanjut Affandie AR, menyampaikan bahwa perwakilan importir Jepang dan Australia sepakat akan membeli hasil pertanian keladi ini.

Talas yang akan dieskpor ke Jepang  harus memenuhi persyaratan batas maksimum residu pestisida, bebas dari kontaminasi bakteri, memiliki tekstur, rasa, penampilan, warna dan ukuran sesuai permintaan pembeli.

Jepang merupakan negara tujuan ekspor yang sangat memperhatikan food safety (keamanan pangan) disamping food quality (mutu pangan) sehingga  traceability (ketertelusuran) untuk setiap pangan yang diedarkan menjadi sebuah persyaratan yang harus dipenuhi”, tambahnya.   

Bahkan, ia menambahkan untuk memastikan penerapan SOP ditingkat petani talas atau keladi, kitapun akan membentuk Tim Pendamping. “Tim ini terdiri  atas unsur Dinas Pertanian Provinsi Kalbar Atau Kubu Raya, Exportir (Jepang & Australia) di Indonesia, Unit Pengolahan Tepung Talas di Jawa Timur dan Perguruan Tinggi”, imbuhnya

Pasar ekspor talas dinilai masih terbuka lebar, sehingga pemerintah bersemangat kembangkan budidaya talas, salah satunya ‘Si Beneng’. Perbedaan Si Beneng dengan talas lainnya adalah umbi batang yang dipanen berukuran panjang dan besar serta berada diatas permukaan tanah, sedangkan pada talas biasa, umbi batang yang dipanen adalah umbi yang terpendam di dalam tanah.

Bahkan Kementrian Pertanian RI menyatakan bahwa Talas Jumbo yang dibudidayakan ini telah menembus pasar Belanda, Jepang dan Australia. Kalau bubur dari umbi talas beneng itu untuk kosmetik, makanan dan lainnya. Itu yang ke Belanda, kalau ke Australia itu daun talasnya, katanya untuk (pengganti) tembakau. talas beneng merupakan singkatan dari besar dan koneng (kuning dalam bahasa Indonesia). Hal tersebut terlihat dari ukurannya yang di atas rata-rata talas pada umumnya, yaitu 120 cm, bobot bisa mencapai 42 kg dan ukuran lingkar luar batang mencapai 50 cm.

Jika kita menanam luas 1 hektare itu di butuhkan sekitar 10.000 ribu bibit talas beneng, di usia 4-5 bulan sudah mulai bisa panen daun tuanya untuk 1 batang tanaman talas beneng ini bisa mendapatkan daun 3-4 lembar dan 1 bulan sekali kita bisa panen untuk daun tuanya. Berarti selama 1 bulan sekali kita mendapatkan keuntungan dari daun talas yang sudah tua dengan rata2 3 – 4 lembar daun dengan berat kurang lebih 1 kg.

1kg x 10.000 tanaman budidaya talas 10.000 x 1.000 per kg Berarti 3 minggu sekali keuntungan dari daun saja kita mendapatkan minimal Rp.10.000.000. Daun yang kita export adalah daun yang sudah diolah dan kering, pasar Australia siap menyerap berapapun jumlahnya.

Berikut ini analisa untuk perhitungan hasil umbi dan harga penjualan umbi talas beneng, saya berikan sedikit ilustrasinya

Untuk harga umbi talas beneng Rp. 1.500 kg.
Kita ambil hasil umbi rata2 dengan berat 30kg per batang mari kita hitung 30kg x 10.000 pohon = 300 ton x 1.500 harga umbi per kg = Rp. 450.000.000, itu gambaran hitungan terendahnya, usia talas ini adalah 8-9 bulan.

Jangan takut bertani dan menjadi petani millenial ditengah persaingan global dan era digital. Pungkas Affandie AR bersemangat. (Noptri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *