MANDAILING NATAL, jppos.id — Nasib rumah bantuan bedah rumah yang diterima Ahmad Husein Lubis (52), warga Kelurahan Dalan Lidang, Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal, terhenti di tengah jalan. Rumahnya belum selesai dibangun karena ia belum bisa menunaikan permintaan dana sebesar Rp2,5 juta yang disebut sebagai biaya upah tukang, Sabtu (17/10/2026).
Ahmad Husein Lubis, yang akrab disapa Cein, mengaku sangat terpukul. Ia dan keluarganya justru berjuang memenuhi kebutuhan harian, terlebih karena harus merawat istrinya yang mengalami kelumpuhan.
"Lihatlah kondisi rumah kami, bangunannya tersendat. Mereka menyebut saya harus menyiapkan Rp2,5 juta untuk upah tukang supaya rumah ini rampung. Padahal untuk makan sehari-hari saja kami susah, apalagi saya harus merawat istri saya yang lumpuh," ungkap Cein dengan suara terbata-bata.
Keluarga miskin ini ternyata sudah mengeluarkan tabungannya sebesar Rp1,1 juta untuk membayar sebagian upah tukang dan membeli bahan tambahan. Namun, banyak material yang datang justru tidak layak pakai — batu bata banyak pecah dan pasir-sirtu tidak sesuai spesifikasi.
"Ini tumpukan material yang tidak bisa dipakai. Uang hasil menabung saya habis, tapi rumah belum selesai. Kasihan istri saya tiap malam kedinginan di rumah yang belum jadi ini," ujarnya sesenggukan.
Awak media telah mengirimkan pertanyaan klarifikasi kepada Lurah Dalan Lidang, Mahdi Gultom, terkait alur pelaksanaan program, kewajiban biaya upah, mekanisme pencairan, serta kejelasan apakah program ini bernama Bedah Rumah atau Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni. Hingga berita ini ditayangkan, pesan telah terkirim namun belum ada tanggapan. Tim jurnalisti JPPOS.id akan terus menunggu tanggapan pihak kelurahan.