JPPOS.ID|| PATI — Kepedulian terhadap warga yang terdampak kekeringan terus ditunjukkan organisasi masyarakat (ormas) Lindu Aji Jolosutro Pati. Selama lima hari pelaksanaan kegiatan sosial, sedikitnya 60 tangki air bersih telah disalurkan kepada masyarakat di sejumlah desa yang mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air akibat musim kemarau.
Aksi sosial tersebut menjadi wujud nyata kepedulian Lindu Aji Jolosutro Pati terhadap masyarakat yang berada di wilayah rawan kekeringan. Bantuan air bersih diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar warga, terutama untuk keperluan sehari-hari di tengah kondisi sumber air yang semakin terbatas.
Sedikitnya 19 desa di sejumlah kecamatan menjadi sasaran penyaluran bantuan air bersih tersebut, yakni:
1. Desa Tambahmulyo, Kecamatan Jakenan
2. Desa Bungasrejo Kecamatan Jakenan
3. Desa Plosojenar, Kecamatan Jakenan
4. Desa Mojo Lampir, Kecamatan Jaken
5. Desa Ngampel, Kecamatan Jakenan
6. Desa Waturoyo Kecamatan Pucakwangi
7. Desa Mojoagung, Kecamatan Pucakwangi
8. Desa Karang Bale
9. Desa Druju, Kecamatan Jakenan
10. Desa Panggung, Kecamatan Pucakwangi
11. Desa Padas, Kecamatan Pucakwangi
12. Desa Tondokerto, Kecamatan Jakenan
13. Desa Kalipang, Kecamatan Jakenan
14. Desa Kalangan, Kecamatan Pucakwangi
15. Desa Biteng, Kecamatan Winong
16. Desa Mantingan, Kecamatan Jaken
17. Desa Kalipang, Kecamatan Jaken
18. Desa Ronggo, Kecamatan Jaken
19. Desa Sumberagung, Kecamatan Jaken
Pembina Lindu Aji Jolosutro Pati, Fauka Noor Farid, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang menghadapi kesulitan memperoleh air bersih akibat kemarau.
Menurutnya, persoalan kekeringan tidak sekadar menyangkut berkurangnya ketersediaan air untuk kebutuhan rumah tangga. Kemarau berkepanjangan juga dapat memberikan tekanan terhadap sektor pertanian yang menjadi salah satu sumber penghidupan masyarakat.
"Kami berharap bantuan ini setidaknya dapat meringankan beban masyarakat yang saat ini mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Kemarau panjang bukan hanya membuat warga kesulitan memenuhi kebutuhan air sehari-hari karena sumber mata air mulai berkurang, tetapi juga berdampak terhadap sektor pertanian,” ujar Fauka saat di konfirmasi media ini melalui sambungan telepon selulernya, Selasa (15/09/26).
Ia menegaskan, kepedulian terhadap masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan merupakan tanggung jawab bersama. Karena itu, kegiatan sosial semacam ini diharapkan tidak berhenti pada momentum tertentu, tetapi dapat menjadi gerakan solidaritas yang terus tumbuh di tengah masyarakat.
Sementara itu, Ketua DPC Lindu Aji Jolosutro Pati, Habibi Sulaim, atau yang akrab disapa Kaji Boim, menambahkan bahwa penyaluran air bersih merupakan bentuk solidaritas sekaligus kepedulian organisasi terhadap kondisi masyarakat.
“Ini adalah bentuk rasa solidaritas dan kepedulian kita bersama. Ketika ada masyarakat yang membutuhkan, tentu kita harus hadir dan berbuat. Mungkin bantuan ini sederhana, tetapi bagi warga yang sedang kesulitan mendapatkan air bersih, setetes air memiliki arti yang sangat besar,” tegas Kaji Boim.
Menurutnya, kegiatan sosial tersebut dilaksanakan dengan semangat kebersamaan seluruh jajaran Lindu Aji Jolosutro Pati. Selama lima hari kegiatan berjalan, sebanyak 60 tangki air bersih telah didistribusikan kepada warga di berbagai wilayah yang terdampak kekeringan.
Kaji Boim menjelaskan, bantuan tersebut tidak berasal dari satu pihak tertentu. Seluruh pembiayaan kegiatan merupakan hasil partisipasi dan gotong royong para anggota serta pengurus Lindu Aji Jolosutro Pati.
“Sumber dana kegiatan ini berasal dari partisipasi anggota dan pengurus Lindu Aji Jolosutro Pati. Kami bergerak bersama, menyisihkan sebagian yang kami miliki untuk membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan,” jelasnya.
Ia berharap kepedulian serupa dapat terus tumbuh di berbagai elemen masyarakat sehingga persoalan kekeringan tidak hanya menjadi perhatian pemerintah, tetapi juga menjadi tanggung jawab sosial bersama.
“Kita tidak ingin masyarakat menghadapi kekeringan sendirian. Selama masih ada yang membutuhkan dan selama kami mampu berbuat, kami akan berusaha hadir. Solidaritas bukan sekadar ucapan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata,” pungkas Kaji Boim.
Aksi sosial tersebut sekaligus menjadi pesan bahwa menghadapi dampak kekeringan membutuhkan kolaborasi dan kepedulian seluruh pihak. Bantuan air bersih mungkin tidak serta-merta menyelesaikan persoalan kekeringan secara permanen, namun kehadiran masyarakat, organisasi sosial, pemerintah, dan berbagai elemen lainnya dapat menjadi kekuatan penting untuk meringankan beban warga yang terdampak.(Bang Ato)